Asal Usul Danau Toba : Sejarah

  • Whatsapp
Asal Usul Danau Toba

Sebelum membahas asal usul danau toba maka kita terlebih dahulu mengenal secara fisik objek wisata ini. Sejarah danau toba menjadi sebuah misteri yang sangat menarik untuk diketahui dan dipelajari bersama. Berdasarkan letak geografis, danau toba berada di Sumatera Utara yang berupa suatu danau vulkanik. Adapun yang menjadi ciri khasnya adalah di tengah danau terdapat suatu pulau besar bernama Pulau Samosir.

Sebagai destinasi wisata propinsi Sumatera Utara maka masyarakat sekitar memelihara dan menjaga danau ini dengan baik. Pemandangan  alamnya yang elok dan eksotik dipelihara. Dan berdasarkan penelitian, danau terbesar di wilayah Asia Tenggara ditempati oleh Danau Toba. Atas kenyataan inilah, danau toba banyak dikunjungi turis lokal dan mancanegara. Pada tahun 2019 ini, Presiden memprioritaskan Danau Toba dijadikan destinasi wisata unggulan.

Read More



Sebagian besar masyarakat yang berada di sekeliling danau toba adalah suku Batak. Suku yang memiliki ciri khas budaya dan adat istiadat tertentu. Mereka ada yang bermata pencaharian sebagai nelayan, pedagang, buruh, dan petani.

Segala sesuatu ada asalnya. Begitupula dengan danau toba. Ia tidaklah lahir secara kebetulan. Melainkan lewat sejumlah kejadian mistis dan legenda. Untuk lebih jelasnya berikut ini asal usul terbentuknya danau toba secara lengkap.

Asal Usul Danau Toba

Asal Usul Danau Toba

Dikisahkan di suatu pedesaan yang sangat terpencil tepatnya di daerah Tapanuli Propinsi Sumatera Utara hiduplah seorang pria bernama lengkap Toba. Ia bertempat tinggal di sebuah gubuk kecil sendirian. Lelaki yang tampan ini dikenal sebagai pria yang ulet dan rajin sehingga banyak disukai orang.



Profesi utama yang ditekuninya adalah petani. Setiap hari Toba bercocok tanaman sayuran di lahan kebun miliknya sendiri yang berukuran kecil. Bermodalkan sepetak lahan kebun itu, ia mampu mencukupi kebutuhan dirinya sendiri .

Tak terasa waktu berganti bulan. Dan bulan berganti tahun. Usia Toba semakin tambah tua. Hal ini disadari oleh Toba. Pria kalem ini merasa kesepian untuk menjalani hidupnya sendiri. Ia berniat untuk menikah. Namun tak ada seorang gadis pun yang ingin menikah dengannya yang miskin ini.

Untuk menghilangkan kegalauan tersebut kerapkali Toba mendatangi sebuah sungai besar yang berdekatan dengan kebun miliknya. Kemudian memancing ikan di atasnya. Hal itu dilakukannya setiap kali ia merasa kebosanan hidup.

Seperti yang dilakukannya siang ini. Selepas ia melakukan panen atas hasil budidaya sayurannya di kebun maka ia lekas lekas pergi ke sungai besar untuk mancing ikan. Sebelumnya ia telah menpersiapkan peralatan memancing yang meliputi umpan dan kail serta senar.

Di dalam perjalanan dengan lirih, Toba bergumam “ Kalau saja saya mempunyai seorang istri beserta anak maka sungguh bahagianya saya. Aku tak bosan hidup sendiri lagi tapi ada pendamping hidup yang menemaniku dalam suka dan duka. Ada yang menemaniku dalam memanen tanaman sayuran dan memancing.”

Tak terasa, Toba telah tiba di tepi sungai besar. Tanpa perlu aba aba lagi ia segera melemparkan umpan di kailnya sejauh mungkin. Hal itu dilakukan secara refleks karena sudah jadi kebiasaan sehari-hari. Kemudian ia menunggu dan menunggu sampai kailnya bergerak-gerak.




Toba bergembira saat kailnya bergerak-gerak yang menandakan ada ikan yang memakan umpannya. Segera ia menarik kailnya. Sampai ia dibuat terkejut. Ternyata ikan yang didapatkannya hari itu sangat besar. Segera ia memutuskan pulang selepas memperoleh tangkapan ikan mas yang berukuran besar itu.

Sampailah Toba di gubuk kecil yang sangat sederhana. Ia lalu mengambil ikan dan menyimpannya dalam ember. Hari ini ia sangat gembira. Sebab ia bisa makan dengan enak dalam beberapa hari yang panjang. Ikan besar hasil tangkapannya merupakan rejeki dari Allah SWT yang tak diduga duga dan patut ia syukuri.

Ketika malam tiba, Toba segera menyalakan api untuk menggoreng ikan mas tersebut. Setelah api besar berkobar kobar, Toba bergegas menuju ember. Namun ia sangat terkejut sebab ikannya tidak ada. Ia menduga ikan itu telah dicuri kucing. Ia kembali lagi dan melihat dalam ember terdapat beberapa koin emas dalam jumlah banyak. Ia semakin heran.

Ketika Toba keheranan itulah tiba-tiba muncul seorang gadis berwajah cantik dengan rambut panjang yang terurai rapi. “Hei kamu siapa?” tanya Toba sedikit gagap.

“Saya adalah ikan mas yang kamu pancing tadi.”jawab perempuan cantik itu.

“Lalu koin emas yang banyak ini milik siapa?” tanya Toba.

“Koin mas itu adalah sisik-sisik dari badanku yang telah terlepas.”ujar gadis ayu ini sambil menatap Toba secara dalam.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Toba sambil mengernyitkan dahi.

“Saya ini sebetulnya seorang putri raja yang sudah disihir dan dikutuk jadi ikan mas oleh nenek sihir. Disebabkan saya menolak dijodohkan degan seorang laki-laki yang saya tak cinta padanya. Karena kamu sudah menyelamatkan saya dan menjadikan saya sebagai manusia kembali maka saya sangat berterima kasih padamu. Sebagai rasa ucapan terimakasih maka saya siap jadi istrimu”




Waw bolamata Toba berbinar-binar. Ia sangat kegirangan. Mimpinya akan segera menjadi kenyataan yaitu mempunyai pendamping hidup. Ia segera menikahi wanita cantik itu secara legal di mata agama dan negara. Namun sebelum pernikahan berlangsung, wanita cantik itu memberikan satu syarat bahwa jika Toba marah jangan pernah mengungkit-ungkit sejarahnya yang pernah jadi seekor ikan mas. Apabila Toba mengutarakan asal usulnya dari ikan emas kepada khalayak maka akan datang suatu musibah besar yang melanda desa. Toba pun menyanggupinya.

Pesta pernikahan berlangsung sederhana. Dan mulailah Toba tidak hidup sendirian lagi. Ia makan dan pergi ke kebun serta memancing selalu disertai isteri tercintanya yang sangat cantik jelita. Toba hidup bahagia. Pada akhirnya Tuhan memberikan seorang anak laki laki kepada Toba. Semakin lengkaplah kebahagiaan Toba. Kemudian  anak itu diberi nama Samosir.

Waktu berjalan dengan cepat, Samosir telah tumbuh menjadi seorang pemuda tampan dan tangguh. Setiap hari Samosir mengantarkan makanan siang yang telah dimasak oleh ibunda tercintanya kepada ayahanda tercintanya di kebun dan selalu membantu Toba dalam kegiatan bertani.

Pada suatu hari, Toba menunggu Samosir terlalu lama. Ia sudah lapar dan lelah. Aneh Samosir tak kunjung datang. Di tengah perjalanan itu konon Samosir merasa lapar lalu mencium aroma sedap makanan yang dibawanya sehingga menyantap habis.




Setelah itu, Samosir mendatangi ayahandanya dan memberikan bungkusan makanan itu. Tapi setelah dibuka ternyata kosong. Yang membuat Toba memarahi Samosir.

“Kurang ajar kamu. Ayahmu sudah lelah dan haus masak diberi bungkusan kosong”bentak Toba pada Samosir.

“Maaf ayah..tadi saya lapar maka saya makan bekal makanan itu” jawab Samosir polos.

“Dasar anak ikan mas..Kurang ajar sekali kamu Samosir.” Bolamata Toba merah sambil melemparkan bungkusan makanan itu ke kebun.

Menyaksikan kejadian itu, Samosir menangis. Kemudian pergi mendatangi ibundanya di gubuk kecilnya. Di depan ibunya, Samosir menangis keras. Ia mengutarakan bahwa Toba telah menyebutnya anak ikan. Mendengar itu, ibunya segera memerintahkan Samosir untuk pergi ke bukit sebab akan ada banjir besar.

Benar saja. Tak berlangsung lama muncul hujan besar yang disertai gemuruh petir dan hembusan angin kencang. Air hujan yang deras membuat desa terendam banjir hingga jadi sebuah danau. Yang kemudian dinamakan Danau Toba. Kemudian pulau berbukit tempat Samosir berlindung dinamakan pulau Samosir.

Dari cerita asal usul danau toba ini dapat ditarik suatu pelajaran berharga bahwasanya janganlah menganggap enteng sebuah sumpah yang telah diikrarkan. Tepatilah sumpah itu dan jangan pernah melanggarnya. Karena kalau sudah melanggar sumpah akan berakibat buruk pada kehidupan di masa mendatang.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 18092

No votes so far! Be the first to rate this post.

Related posts